Minggu, 03 Mei 2015

Orpala Kadipa Bhakti Sosial di Desa Belangian

ORPALA KADIPA, Sejumlah anggota Orpala Kadipa melaksanakan Bhakti Sosial di Desa Belangian Kabupaten Banjar, Kamis, (16/4). Di antara kegiatan yang dilaksanakan yakni pengecatan Dermaga Pelabuhan Desa Belangian dan Madrasah Ibtidaiya Muhammadiyah Desa Belangian.

Ketua Pelaksana Bhakti Sosial Kamsani menuturkan, kegiatan tersebut merupakan agenda rutin dari Orpala Kadipa yang dilaksanakan tiap tahunnya.

“Semoga dengan adanya bhakti sosial ini bisa memberikan manfaat di wilayah-wilayah pedesaan. Dan mengakrabkan Kadipa dengan masyarakat secara umum,” ujarnya.

Sekretaris Desa Belangin Hasri menuturkan, Orpala Kadipa sudah seperti keluarga baginya, tersebab anggota ini sudah sering mengunjungi Desa Belangian dari pertama berdiri.
“Alhamdulillah dipertemukan kembali di tahun ini. Juga dengna wajah-wajah baru generasi penerusnya. Kita berharap Orpala Kadipa bisa terus Berjaya dan berkembang. Karena sebagaimana diketahui Orpala Kadipa tak hanya di Kabupaten Banjar melainkan se-Kalimantan Selatan,” ucapanya.

Sebanyak 9 Anggota yang turut serta dalam bhakti sosial tersebut melanjutkan pengecatan di madrasah pada hari Jumat, (17/4). Kegiatan juga dilanjutkan dengan Latihan Pemantapan Atrus XI Orpala Kadipa yang pemberangkatan dimulai dari Belangian menuju Tahura Mandiangin. (oka)

















































Catper Latdas Orpala Kadipa Atrus XI (Bagian Pertama)

Catatan Perjalanan Latdas Orpala Kadipa Atrus XI
Tahura Mandiangin
Disusun Oleh:
Ananda Perdana Anwar

Senin, 19 Januari 2015.
Siang itu, enam orang peserta calon anggota Latihan Dasar (Latdas) Orpala Kadipa Angkatan Penerus ke-XI yang terdiri dari 5 orang laki-laki dan 1 orang perempuan berkumpul di sekretariat ABC Track di Jl A Yani, Km 35, samping pusat perbelanjaan Giant Kota Banjarbaru. Enam orang peserta tersebut adalah Kamsani, Aspiyani, Dedy, Hayatun/Atun, Doaka, dan Aku, “Ananda”, (selanjutnya: kami, red). Yang mana, tentang karakter masing-masing dari mereka akan kuceritakan nanti.

Pukul 09.30 Wita, kami berangkat menggunakan kendaraan masing-masing menuju sekretariat Orpala Kadipa di Jl Demang Lehman Seberang Masjid Al-Karomah, Martapura, Kabupaten Banjar.

Karena sudah kuputuskan untuk diantarkan, maka perjalanan menuju sekre, aku menumpang dengan Aspi. Meski agak kecewa dengan motor klasiknya yang ia geber sekuat tenaga sehingga suaranya bak kakek tua renta perokok, mengidap penyakit batuk dalam menahun.

Tiba di sekre yang telah disebutkan tadi, bersantai sejenak, menurunkan ransel yang mengikat pundak, kami menunggu beberapa senior yang akan mendampingi pemberangkatan. Aku mendatangi Kamsani yang sudah lebih dulu ada di warung kopi seberang sekretariat. Segelas kopi, kurasa sudah cukup menahan beratnya kelopak mata karena waktu tidur yang sangat sedikit, tersebab pukul 05.00 Wita, “packing” ku baru rampung.

  Aku bersama Aspi dan Bang Dayat menyempatkan “ngopi” sembari ngobrol beberapa topik di warung seberang. Pembahasan seputar latar belakang masing-masing. Semisal tempat tinggal, asal daerah, pekerjaan, dan lain hal basa-basi seputar perkenalan lainnya. Obrolan seputar perkenalan klasik kukira cukup renyah sembari membunuh waktu.

Pukul 11.00 Wita, mobil pick up tiba di samping sekre. Beberapa senior mulai mengangkat, memasukan, dan merapikan sejumlah barang, perlengkapaan, logistik, untuk persediaan 4 hari 3 malam terhitung mulai hari ini. Tali temali, tongkat, termasuk ransel para senior dan peserta. Dan yang kukira paling berharga adalah, bendera Orpala Kadipa. Berkibar-kibar ditiup angin, layaknya bendera peperangan yang tak lekang ditembak peluru. Begitu memesona. Kami berangkat menuju lokasi Tahura Sultan Adam.

Setengah jam perjalanan, para peserta diturunkan di desa Tiwingan Lama. Persisnya di jalan setapak di antara rumah penduduk setempat. Ada proyek pembuatan jembatan yang sedang dikerjakan di sana. Di tempat inilah, semua peserta dibariskan setelah semua perlengkapan diturunkan dari mobil. Para senior berkumpul. Pembukaan dimulai dengan sambutan dari Bang Octi, termasuk dari Angkatan Pelopor (Atpor) di Orpala Kadipa. Lantas dilanjutkan dengan beberapa nasihat dari Bang Aan dengan beberapa teknis dari aturan Latdas.

“Bongkar packingan. Keluarkan semua barang-barang yang ada dalam tas carrier,” ujar Bang Aan yang berperawakan ceking lagi tinggi itu kepada kami.

Sigap semua peserta membuka kuncian demi kuncian ransel bermuatan 60L di depan para panitia. Semua bungkusan yang telah terpacking rapi tadi malam dihamparkan di atas matras yang sudah kami gulungkan membentuk tubuh ransel. Satu persatu disusun. Kecuali aku yang mengeluarkan dengan terburu-buru dan menumpukan barang-barang bawaan. Padahal, Bang Aan telah menginstruksikan agar menyusun dengan rapi, mengelompokan semua barang bawaan agar mudah mempacking kembali. Meletakkan barang yang bakal sering digunakan di bagian atas. Packing adalah seni di Pecinta Alam. Materi ini termasuk point penting dalam manajemen perjalanan.

Habis sudah semua isi ransel kami hamparkan di hadapan. Saat bersiap, dengan hitungan, semua panitia memerintahkan agar kami cepat mempacking kembali semua barang seperti sediakala. Perintah demi perintah diteriakkan agar packing kami cepat namun tak terburu-buru. Inilah yang membuat hampir dari packingan kami semua tak seperti semula. Boleh dibilang, menyembul di beberapa sudut ransel sehingga bentuknya pun tak lagi proposional.

Semua disiapkan. Sambutan berakhir, pembacaan doa selesai. Dilanjutkan dengan pembacaan Kode Etik Pecinta Alam se-Indonesia bersama. Secara resmi, Bang Octi telah membuka kegiatan Diklatsar Orpala Kadipa Atrus XI di Tahura Sultan Adam. Dengan penuh rasa syukur, desiran sungai yang mengalir deras di bawah pijakan, suara burung semilir berhembus bersama angin, hingga gerimis hujan, menetes perlahan di tiap sudut kulit kami. (bersambung)


Orpala Kadipa Laksanakan Lantap 2015

ORPALA KADIPA, Atrus XI Orpala Kadipa Kalimantan Selatan Tahun Angkatan 2015 baru saja usai melaksanakan Latihan Pemantapan.

Sebanyak 9 Orang anggota beserta Senior Pendamping berangkat dari Kota Banjarbaru di hari Kamis 16 April 2015 Petang menuju Desa Belangian Kabupaten Banjar dan berakhir pada Minggu, 19 April 2015 tiba di Tahura Mandiangin, Kabupaten Banjar, dini hari.

Sebelumnya, yakni di hari pertama para peserta dan anggota senior lainnya melaksanakan Bhakti Sosial di Desa Belangian pengecatan dermaga dan juga pengecatan Madrasah setempat pada hari kedua, Jumat paginya.

Ketua Pelaksana Latihan Pemantapan Atrus XI Orpala Kadipa Dedi Setia Rahman menuturkan, ia berseama rekan seangkatannya bersyukur bisa rampung melakukan perjalanan tersebut persis sebagaiana jadwal di hari Minggu, 19 April 2015 tersebut.

“Memang medan yang kita lalui tidak mudah, karena hutan dan perbukitan yang kita jadikan jalur sangat jarang dijamah manusia. Untunglah dengan tekad kawan-kawan semua dan semangat semua bisa dijalani,” ujarnya.

Disebutkannya, jalur yang dipilih dalam Lantap kali ini dimulai dari Belangian, Jungur, Mentawai, dan Tengger/Tahura Mandiangin sebagai finish.


“Setelah sampai barulah kegiatan sakral kita sebagai tradisi tahunan dilanjutkan di Pondok Kadipa di Tahura Mandiangin hingga sore harinya,” sebutnya.

Ia berharap dengan usainya kegiatan tersebut bisa semakin mempererat persaudaraan antar anggota Kadipa baik senior maupun junior.

“Semoga dengan rampungnya rangkaian ini penerimaan anggota baru untuk gelombang kedua di tahun ini juga bisa terlaksana dengan lancar,” pungkasnya. (oka)

Orpala Kadipa Penerimaan Anggota Baru Tahun Angkatan 2015

ORPALA KADIPA, Orpala Kadipa Kalimantan Selatan telah membuka penerimaan untuk anggota baru Angkatan XI gelombang ke-II di tahun 2015 ini. Ketua Panitia Pelaksana Hidayaturrahman menuturkan, pelaksanaan terbilang cukup singkat jaraknya dari penerimaan anggota sebelumnya karena terbilang animo para kawula muda yang ingin turut serta bidang Pecinta Alam cukup tinggi.

“Hal ini juga didorong dengan tren para anak muda yang belakangan ini marak pergi ke gunung hanya untuk bersenang-senang. Terlebih Orpala Kadipa adalah organisasi Pecinta Alam yang berada di luar kampus. Sehingga bisa menampung sejumlah kalangan dari umum, atau mereka yang tak sempat ikut Mapala di kampusnya, tentu dengan senang hati bisa bergabung dengan kami di Orpala Kadipa,” ujarnya, Minggu, (3/5), kemarin.

Dibeberkannya, penerimaan memang telah berjalan 1 bulan yakni dimulai per tanggal 1 Maret 2015 dan akan berakhir di tanggal 12 Mei 2015.

“Jika tak ada aral melintang, Latdas ruang hari pertama dimulai pada hari Kamis 14 Mei 2015 di Banjarbaru. Untuk lokasinya akan diinfokan lebih lanjut. Hari itu juga bertepatan dengan hari lahirnya Orpala Kadipa, maka dari itu, Latdas Atrus XI Gelombang ke-II ini akan begitu special, mengingat organisasi kami yang telah Berjaya 15 tahun sejak berrdirinya di tahun 2000,” jelasnya.

Wakil Ketua Pelaksana Doaka meyakinkan, saat ini pihaknya telah menyiapkan segala hal yang berkaitan dengan materi dengan perlengkapan. Ia berharap dengan adanya penerimaan ini bisa menambah teman-teman di bidang Pecinta Alam dan juga semakin mempererat silaturahmi dalam ruang lingkup Pecinta Alam maupun pergaulan sehari-hari.

“Penerimaan masih berlangsung 10 hari. Hingga hari ini sudah ada beberapa nama yang kita simpan. Kami membuka pintu selebar-lebarnya bagi mereka yang ingin bergabung. Banyak ilmu dan hal lainnya yang akan kita share pada pelatihan nantinya. Begitu juga, dengan kontribusi peserta 100 ribu rupiah, mereka sudah mendapatkan T-Shir, Slayer, ID card, dan hal lain yang diperlukan saat latdas berlangsung,” pungkasnya. (oka)

Tentang Caving

TENTANG CAVING, Susur gua atau jelajah gua (Inggris caving) adalah olah raga rekreasi menjelajahi gua. Tantangan dari olah raga ini tergantung dari gua yang dikunjungi, tapi seringkali termasuk negosiasi lubang, kelebaran, dan air. Pemanjatan atau perangkakan sering dilakukan dan tali juga diguanakan di banyak tempat.

Caving kadangkala dilakukan hanya untuk kenikmatan melakukan aktivitas tersebut atau untuk latihan fisik, tetap awal penjelajahan, atau ilmu fisik dan biologi juga memegang peranan penting. Sistem gua yang belum dijelajahi terdiri dari beberapa daerah di bumi dan banyak usaha dilakukan untuk mencari dan menjelajahi mereka. Di wilayah yang telah dijelajahi (seperti banyak negara dunia pertama), kebanyakan gua telah dijelajahi, dan menemukan gua baru seringkali memerlukan penggalian gua atau penyelaman gua.

Gua telah dijelajahi karena kebutuhan manusia untuk beberapa ribu tahun, namun hanya dalam beberapa abad terakhir aktivitas ini menjadi sebuah olah raga. Dalam dekade terakhir caving telah berubah karena adanya peralatan dan baju perlindungan modern.

Banyak keahlian dalam caving dapat digunakan di olahraga lain seperti penjelajahan tambang dan penjelajah perkotaan. Yakni SRT: single rope tachnic.
1. 1 Gaya-gaya yang dipakai dalam SRT meliputi:
   1. Froglit Style: Style yang biasa dipakai oleh caver unakan satu tali. dengan satu kaki sebagai tumpuhannya serta satu kaki satunnya lagi menginjak footloop.
   2. Texas Style: Style yang dipakai dengan dua buah tali dengan bantuan alat pulley.
   3. Bisel : tehnik ini jarang dipakai oleh caver.

  Satu set srt terdiri dari :
-2 Buah langkahbiner snap.
-3 Buah langkahbiner scru.
-1buah mr (million rapid).
-1buah autostop atau descender.
-2 Buah autostop simple.
-1buah jumar.
-1buah croll.
-2 Buah cowstell (terdiri dari cowstell pendek serta cowstell panjang).
 
1. 2 Langkah-cara menempatkan alat-alat SRT:
1. pakai harness terlebih dulu, upayakan catatan danger tertuput.
2. masukan mr ( million rappid ).
3. masukan croll upayakan croll dibagian yang sangat kanan.
4. masukan costill serta upayakan cowstel terdapat dibagian yang sangat kiri.
5. masukan 2 buah langkahbiner snap serta lagi scru.
6. masukan otostop di langkahbiner scru serta upayakan letak otostop di dalam.
7. pasang chess harness pada croll.
8. pasang jumar pada cowstell yang panjang.
9. pasang karabiner scru pada jumar yang dipakai untuk footlup.

Untuk jadi seorang caver mesti menguasai tekhnik-teckhik basic serta pengetahuan perihal caving itu sendiri, salah satunya yaitu :
Rigging: rigging yaitu langkah pemasangan dalam gua bergantung dengan ornamen serta type gua yang dapat di masuki.
SRT: srt yaitu langkah atau tehknik yang dipakai untuk menaiki statu gua dengan langkah spesifik di dalam srt itu sendiri juga ada beberaa langkah agar orang yang dapat menaiki senantiasa aman perumpamaan inter mediet, debíais, serta halangan.
Mapping: mapping yaitu pemetaan, di mana pemetaan ini yaitu statu langkah untuk tahu apa saja yang ada pada gua serta berapakah kedalaman gua dan tahu vegetasi apa saja yang ada pad agua tersebut.
Holling : holing yaitu statu langkah etahui type lubang yang ada pada ornamen gua tersebut dengan mengaplikasikan langkah apakah yang dapat digunakan.
1. 3 Cara-Cara Pembuatan Angcor
Di dalam caving ada langkah atau cara-cara pembuatan angcor, angkor itu sendiri ada 3 angchor emas, perunggu, perak. ( standar angkor yang biasa dipakai 3 buah angckor ).
Langkah pemasangan angckor:
1. menggunakan simpul playboy
2. kemiringan verikal diusahakan 90-1300, namun standarnya 1100.
3. back up belakang minimal ½ mtr..
  Di dalam intermediat umumnya menggunakan simpul ½ delapan. di dalam srt pengaman minimal mesti ii buah pengaman. perumpamaan pengaman.
1. cowstell pendek diletakan pada hanger.
2. jumar mesti senantiasa menenpel jika croll dapat dilepaskan.
3. autostop mesti terkunci jika jumar dapat dilepaskan.

  Langkah mengunci autostop :
1. jempol memegang tali karamentel statis dengan bentuk huruf c.
2. lantas masukan tali karmentel sesuai dengan panduan yang ada pada autostop tersebut.
3. masukan karamentel ke karabinel snap.
4. lantas lingkarkan karamentel hingga terkunci tuasnya,
5. masukan karamentel ke dua buah karabiner serta lantas lingkarakan kembali sehinga mengunci pada tuas kunciannya.


2. 1 Deviasi
  Didalam caving ada juga sebutan yang diberi nama dengan deviasi, deviasi itu sendiri yaitu satu langkah untuk meringankan caver agar tidak berlangsung benturan segera dengan tebing pada gua. langkah lakukan deviasi:
1. pasang cowstil pendek pada ronga tali pada deviasi.
2. copot langkahbiner debíais serta lantas pindahkan langkahbiner debíais pada tali karmentel di bawah croll.
3. pasang jumar di bagian atas croll.
4. lantas terlepas cowsil.
Yang menjadi tidak kalah penting dalam hal ini:
“janganlah dulu senang jadi orang yang terlatih, jadilah orang yang senantiasa berlatih”.

2. 2 Pengertian dan Sejarah Penelusuran Gua 'Caving'
Pengertian dan Sejarah Penelusuran Gua 'Caving' yakni Caving berasal dari kata Cave= Gua. Sedangkan orang yang menelusuri gua disebut caver. Jadi caving bisa diartikan sebagai kegiatan penelusuran gua yang mana merupakan salan satu bentuk kegiatan dari Speleologi. Sedangkan Speleologi secara morfologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu : Spalion = Gua dan Logos = ilmu. Jadi, secara harfiah Speleologi adalah Ilmu yang mempelajari tentang gua, tetapi karena perkembangan speleologi itu sendiri, spleologi juga mempelajari tentang lingkungan disekitar gua.
Ada Beberapa Pengertian Penelusuran Gua "Caving' menurut para ahli Penemu mamupun para Caver, yakni :
Menurut IUS (International Union of Speleology) anggota komisi X UNESCO PBB : “Gua adalah setiap ruang bawah tanah yang dapat dimasuki orang”.
Menurut R.K.T.ko (Speleologiawan) : “Setiap ruang bawah tanah baik terang maupun gelap, luas maupun sempit, yang terbentuk melalui system percelahan, rekahan atau aliran sungai yang membentuk suatu lintasan aliran sungai dibawah tanah.”
Adapun Sejarah Penelusuran Gua 'Caving', yang dimulai dari tahun ke tahun, yakni :
Penelusuran Gua dimulai oleh John Beaumont, ahli bedah dari Somerset, England (1674) ia seorang ahli tambang dan geologi amatir.
Orang yang paling berjasa mendeskripsikan gua-gua antara tahun 1670-1680 adalah Baron Johann Valsavor dari Slovenia. Ia mengunjungi 70 goa, membuat peta, sketsa dan melahirkan buku setebal 2800 halaman.
Joseph Nagel, pada tahun 1747 berhasil memetakan system perguaan di kerajaan Astro-Hongaria.
Stephen Bishop, pemandu wisata gua yang paling berjasa dan membawa gua Mammoth diterima UNICEF sebagai warisan dunia.
2. 3 Etika, Moral dan Kewajiban Penelusuran Goa
Etika, Moral dan Kewajiban Penelusuran Goa tentunya hal yang sangt penting diketahui terlebihi dahulu oleh para Penelusur Goa. Mengapa hal tersebut dianjurkan dan sangat diutamakan, disebabkan banyaknya hal-hal yang belum diketahui dalam Kegiatan Caving ini. Apalagi bagi para penelusur Goa yang baru mengenal situasi saat Caving.
Ada beberpa hal yang perlu ditinjau dan diperhatikan dalam Etika, Moral dan Kewajiban Penelusuran Goa sebelum melakukan Caving, Ddisetiapa kegiatan Penelusuran Goa, dimanapun, Kapanpun dan siapapun itu, Yakni :
Kode etik penelusur goa  dibuat karena goa merupakan lingkungan yang sangat sensitif dan mudah tercemar. Kode etik ini antara lain :
TAKE NOTHING BUT PICTURE (Jangan Mengambil Apapun Kecuali Gambar)
LEAVE NOTHING BUT FOOTPRINT (Jangan Meninggalkan Sesuatu Kecuali Jejak)
KILL NOTHING BUT TIME (Jangan Membunuh/Memotong Sesuatu Kecuali Waktu)
CAVE SOFTLY
Setiap penelusur gua sadar bahwa setiap bentukan alam di dalam goa dibentuk dalam kurun waktu ribuan tahun.
Setiap menelusuri gua dan menelitinya dilakukan oleh penelusur gua dengan penuh respek tanpa mengganggu dan mengusir kehidupan biota di dalam gua.
Setiap penelusur menyadari bahwa kegiatan speleologi dari segi olah raga maupun ilmiah bukan merupakan usaha yang perlu dipertontonkan dan tidak butuh penonton.
Para penelusur tidak memandang rendah diantara sesama penelusur, begitu juga sebaliknya penelusur akan dianggap melanggar etika apabila memaksakan kehendaknya padahal persiapan kurang.
Respek terhadap sesama penelusur gua ditunjukkan dengan cara
Tidak menggunakan bahan / peralatan, yang ditinggalkan rombongan lain, tanpa izin mereka.
Tidak membahayakan lainnya, seperti melempar suatu benda ke dalam goa bila ada orang di dalam gua.
Tidak menghasut penduduk untuk menghalangi rombongan penelusur
Jangan melakukan penelitian yang sama, apabila diketahui ada rombongan lain melakukan penelitian yang sama tapi belum dipublikasikan.
Jangan menganggap anda penemu sesuatu apabila anda belum melakukan mencari informasi.
Setiap usaha penelusuran merupakan usaha bersama. (jangan menonjolkan kemampuan pribadi dan ingat bahwa penelusur adalah tim)
Jangan menjelekkan nama sesama penelusur.
3. 1 Kewajiban penelusur goa
Menjaga lingkungan baik kebersihan, kelestariannya, dan kemurniannya menjadi hal wajib. Termasuk konservasi lingkungan gua merupakan tujuan utama penelusur goa. Maka dari itu wajib bagi para penelusur memberi pertolongan kepada penelusur lain apabila membutuhkan pertolongan sesuai dengan kemampuan. Yang terutama menjaga sopan santun dengan penduduk sekitar.
3.2 Izin Resmi
Wajib memberitahukan kondisi berbahaya pada penelusur lain tentang kondisi sekitar lingkungan goa atau di dalam goa.